Indonesia Manfaatkan Jalur Sutra Untuk Pengembangan Industri

0
3

JAKARTA (LINTAS PAPUA) – Presiden Joko Widodo hari ini, Senin, 15 Mei 2017, menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi The Belt and Road Forum for International Cooperation (BRF), di Beijing, Tiongkok.

Sebanyak 29 kepala negara atau pemerintahan dan pimpinan organisasi internasional turut serta dalam pertemuan yang diselenggarakan di Yangqi Lake International Conference Center (ICC).

Dalam forum sesi pertama yang membahas tentang sinergi kebijakan, Kepala Negara mengingatkan kembali peranan Indonesia saat Jalur Sutra pertama kali berkembang. Saat itu, Indonesia memang dikenal sebagai kepulauan kaya rempah.

“Saya ingin mengingatkan bahwa di abad-abad di mana Jalur Sutra pertama kali berkembang, Indonesia saat itu dikenal sebagai kepulauan rempah, the Spice Islands,” ucap Presiden.

Oleh karenanya, dalam visi infrastruktur _One Belt One Road_ yang digagas oleh pemerintah Tiongkok, Presiden Joko Widodo ingin agar Indonesia kembali memainkan peranan penting dalam inisiatif yang juga disebut sebagai Jalur Sutra baru tersebut.

“Indonesia dan Asia Tenggara harus kembali memainkan peranan yang penting dalam memasok bahan baku dan sumber daya alam yang kemudian diolah menjadi produk dan jasa,” ujarnya.

Oleh karena itu untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu basis perniagaan dan bisnis di sepanjang Jalur Sutra baru, Presiden mengajak para kepala negara untuk bekerja sama dengan Indonesia dan Asia Tenggara dalam mengolah dan mengembangkan bahan baku industri dan pangan yang dimiliki.

“Saya ingin mengundang Bapak/Ibu sekalian untuk bekerja sama erat dengan kami di Indonesia dan di ASEAN untuk menggarap bersama bahan baku industri yang kami miliki, bahan baku pangan yang kami miliki, dan sumber daya energi yang kami miliki untuk mengembangkan bersama, dari ujung ke ujung, rantai produksi di sepanjang Jalur Sutra,” ujarnya.

Berkaitan dengan hal tersebut, di hadapan para kepala negara yang hadir, Presiden Joko Widodo menyebut bahwa Indonesia merupakan satu di antara tiga negara utama di dunia yang memasok bahan pangan seperti kakao, kopi, kelapa, minyak kelapa sawit, dan rempah-rempah.

“Bersama beberapa negara di Asia Tenggara, Indonesia merupakan di antara top tiga di dunia pemasok bahan baku pangan seperti kakao, kopi, kelapa, minyak nabati, terutama minyak kelapa sawit. dan rempah-rempah seperti kayu manis, pala, dan banyak yang lain,” tuturnya.

Sementara di bidang industri, Indonesia juga berada dalam tiga besar negara pemasok bahan baku industri seperti nikel, timah, tembaga, dan aluminium bauksit. Tak hanya itu, Indonesia juga diberkati dengan sumber daya energi yang berlimpah dan terjangkau.

“Asia Tenggara, khususnya Indonesia, juga diberkati dengan sumber daya energi yang berlimpah dan murah. Tenaga hidro, tenaga geotermal, tenaga surya, dan tentunya tenaga batu bara,” ia menambahkan.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden turut memberikan pandangannya terkait negara-negara berkembang beberapa waktu terakhir. Menurutnya, negara-negara berkembang kini mulai bangkit dan menjadi sebuah kekuatan baru.

“Terlepas dari peristiwa-peristiwa yang menyedot perhatian kita dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, tetap saja bahwa perkembangan yang paling historis dan paling signifikan di abad ke-21 adalah kebangkitan kelas menengah di negara-negara berkembang. Dalam 50 tahun terakhir, ratusan juta orang meninggalkan kemiskinan dan bergabung dengan kelas menengah, menjadi ‘the Global Middle Class’. Itu terutama terjadi di sini, di Tiongkok, namun juga di berbagai kawasan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia,” ucapnya lebih lanjut.

Presiden Joko Widodo juga percaya bahwa pembangunan infrastruktur melalui inisiatif _Belt and Road_ ini dapat memicu industrialisasi di berbagai belahan dunia lainnya sebagaimana yang pernah dialami oleh Tiongkok. Dengan itu, akan semakin banyak orang yang diharapkan untuk keluar dari jerat kemiskinan.

“Kami meyakini bahwa upaya pembangunan infrastruktur melalui inisiatif _Belt and Road_ bisa memicu industrialisasi yang dahsyat. Dari Afrika, Timur Tengah, Asia Sentral, Asia Selatan, hingga Asia Tenggara dan Asia Timur,” ujarnya.

Di penghujung pernyataannya, Presiden Jokowi berharap agar inisiatif _Belt and Road_ ini mampu diwujudkan menjadi hal yang nyata. Sebab, hal inilah yang sebenarnya sedang ditunggu-tunggu oleh dunia.

“Satu aspek yang sangat saya hargai mengenai inisiatif _Belt and Road_ sejauh ini adalah realisasi yang nyata. Bukan hanya bicara, tapi benar-benar membangun sesuatu. Pelabuhan, kereta api, dan industri yang bisa kita lihat, bisa kita sentuh. Itulah keberanian dan aksi nyata yang dibutuhkan di dunia saat ini,” tutupnya. (***)

Bey Machmudin