KENAPA ORANG PAPUA NYALAKAN LILIN BUAT AHOK ? Sebuah Catatan Buat Kaum Gagal Paham

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Perbedaan pandangan masih tetap terjadi dalam dinamika kehidupan, demikian dengan sikap masyarakat Papua tanpa memandang etnis suku, agama dan semua golongan bersama – sejak Rabu malam (10/05/2017) melakukan serangkaian aksi bakar lilin sebagai simbol melawan ketidakadilan yang dialami Ahok sebagai Gubernur Jakarta, hal ini secara jelas diulas oleh salah satu Diplomat Muda Papua, Ariella Yoteni, Kamis (11/05/2017).

Sebagaimana dikutip dari https://ariellapapua.wordpress.com/2017/05/11/191/ mengulas tentang sebuah pertanyaan besar, yakni KENAPA ORANG PAPUA NYALAKAN LILIN BUAT AHOK? Sebuah Catatan Buat Kaum Gagal Paham

Menurut Ariella Yoteni, bahwa pada akhirnya Indonesia mempunyai pahlawan bernama Ahok seorang pejuang revolusi birokrasi dan good governance sekelas dan sekaliber Nelson Mandela pejuang Apartheid di Afrika dan Martin Luther King pejuang HAM bagi Black American di Amerika.

Persoalan Ahok menimbulkan banyak tanggapan bagi warga didunia nyata maupun dunia maya. Banyak yang menaruh simpati dan mendukung Ahok namun tidak sedikit juga menyindir Ahok dan para pendukungnya.

Kisah Ahok terjadi di Jakarta, ibukota negara Indonesia namun mampu menarik perhatian seluruh warga Indonesia maupun perhatian dunia. Tidak ketinggalan bagian timur Indonesia pun turut menunjukan ekspresi simpatinya kepada Ahok, seperti yang terjadi di Kota Jayapura, Manokwari, Timika, Merauke dan Sorong pada hari ini. Secara spontanitas mereka menyebarkan undangan didunia maya dan membuat aksi damai yang dinamakan 1000 lilin untuk Ahok.
Aksi 1000 lilin untuk Ahok di Kota Timika Papua
Aksi 1000 lilin untuk Ahok di kota Manokwari
Aksi 1000 lilin untuk Ahok di Kota Sorong

“Yang akan saya bahas bukan fenomena 1000 lilin untuk Ahok. Tetapi menanggapi beberapa cuitan dan status segelintir orang yang menganggap bodoh dan tolol kegiatan 1000 lilin untuk Ahok,” tulisnya dalam blog tersebut, Kamis (11/05/2017).

Diplomat Muda Papua, Ariella Yoteni (Foto Facebok Ariella Yoteni)

Dikatakan, beberapa dari mereka mengatakan: “Ada kenal Ahok kah jadi bakar lilin untuk dia?”
“Uang pakai beli lilin tuh lebih baik pakai lihat anak-anak miskin di pedalaman” “Sebagai apa dalam Ahok punya hidup?” “Bakar-bakar lilin untuk? Stop cari muka dengan Ahok”
“Kasus Ahok adalah Murni Politik, Hukum tabur tuai” kalau yang ini ditulis oleh salah satu pemuda yang menurut orang-orang sangat bercendekiawan.

Diakui, dirinya langsung miris dengan kedangkalan otak yang menulis seperti itu.

Saya menghargai bahwa itu adalah freedom of expresion seseorang tapi cobalah memahami lebih baik seluk beluk masalah sebelum berkomentar sehingga tidak terkesan bodoh.

Sebagai bahan renungan, ini adalah hal-hal yang perlu kita ketahui kenapa harus mendukung Ahok.

1. Ahok adalah simbol Pemimpin dengan standart tinggi. Masuk keluar KPK berkali-kali tapi tidak pernah terbukti melakukan korupsi. Berani memecat siapapun yang bekerja tidak jujur dan memberantas mafia-mafia anggaran negara.

2. Ahok selalu menerima pengaduan masyarakat setiap jam 7 sampai jam 10 pagi di balaikota. Coba sebutkan 1 saja pemimpin di Papua yang kalau mau ketemu tuh gampang-gampang saja.

3. Ahok seorang Kristen yang taat, dia tidak pernah meninggalkan pintu gereja setiap hari minggu, dia selalu menolak menghadiri kegiatan yang dilaksanakan pada saat jam ibadah. Tidak pernah sekalipun dia tergoda meninggalkan Yesus hanya untuk sebuah jabatan dan hanya untuk dikasihi Mayoritas.

4. Lima tahun memimpin Jakarta (2 tahun sebagai Wagub dan 3 tahun sebagai Gubernur) kita (kebetulan saya tinggal di Jakarta) bisa merasakan Jakarta yang lebih baik.

5. Urusan anak-anak miskin dipedalaman adalah urusan pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat. Orang Papua nyalakan lilin buat Ahok sebagai tanda bahwa Pemimpin seperti Ahok yang orang Papua inginkan. Bukan Pemimpin yang rajin sekali kasih habis uang di Jakarta.

6. Kasus Ahok murninya bukan karena Politik, ini murni KASUS SARA. Coba dibuka-buka kembali lembaran-lembaran lama sejak Jokowi dilantik sebagai Presiden dan secara otomatis Ahok ditunjuk sebagai Gubernur. FPI melakukan demo besar-besaran di bundaran HI dan memaki Ahok sebagai Kafir dan menghina Kristen. Demo dilakukan berkali-kali tetapi tidak mendapatkan tanggapan apapun. Akhirnya mereka membuat gubernur tandingan. Bertahun-tahun mencari celah dan akhirnya munculah Buni Yani sang perusak dan dimanfaatkanlah oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan politik seperti Cikeas dan Cendana kalau dianalogikan “Sniper (FPI) sudah ada, tinggal tunggu Senjata (Buni Yani) dan pasokan peluru (Cikeas dan Cendana)” maka matilah Ahok.

Dengan memakai isu yang sangat sensitif yaitu Agama, maka seorang Ahok pun tumbang. Ini bukanlah akhir dari sebuah cerita, karena sejarah ini akan berlanjut. Akhirnya sampai dimana kita tunggu di episode yang akan datang.

Nah…sekarang kenapa harus menyalakan lilin untuk Ahok???

1. Dari kasus Ahok, kita menyadari bahwa di Indonesia “The Law is like a bitch, easily to get fuck by the Majority”. Kasar memang tapi itu yang terjadi.

2. Dari kasus Ahok terciptalah yang namanya Mayoritas dan Minoritas.

3. Dari kasus Ahok dengan jelas dijelaskan dan dipertegas bahwa Kristen dan agama minoritas lainnya tidak diperbolehkan memimpin Indonesia dibawa bingkai Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Jadi kita nyalakan lilin buat kematian TOLERANSI di Indonesia

4. Dari kasus Ahok orang Papua yang mayoritas beragama Kristen belajar bahwa ikut Yesus tidak gampang seperti di Papua.

Untuk itu kenapa kita harus nyalakan lilin untuk Ahok, untuk mengenang kematian Toleransi dan kematian Hukum di Indonesia. Dan juga untuk memberitahu kepada Pemimpin – Pemimpin di Papua bahwa kami segenap orang Papua butuh Pemimpin yang tegas dan Jujur seperti Ahok.

Sementara itu, secara terpisah Majelis Pekerja Harian PGI Pdt. Dr. Henriette T.H. Lebang mengatakan, bawha ungkapan keprihatinan kami ini hendaknya tidak dilihat sebagai semata -mata menyangkut nasib ir Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), tetapi lebih merupakan keprihatinan atas nasib dan masa depan Bangsa dan Negara kita: masihkah Negara kita merupakan Negara Kebangsaan atas dasar Pancasila atau sudah berubah menjadi Negara Agama.

“Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, kami menghimbau kepada pihak pengadilan untuk Menghargai hak-hak Ir Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk dapat hidup bebas di luar penjara hingga putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap mengatakan lain, Memberikan kepastian proses hukum yang bebas dari tekanan dan pesanan, adil dan tidak memihak untuk proses selanjutnya ditingkat banding dan kasasi.

Menyikapi hal ini, Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPH-PGI) merasa perlu menyampaikan Sebagai bagian utuh dari masyarakat indonesia, kami menghargai -dan harus mematuhi putusan hukum yang berkeadilan, yang telah berkekuatan hukum tetap. Dan sejalan dengan ini, kami juga menghimbau dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut menghargai dan mematuhi hukum.

Dalam kaitan dengan putusan PN Jakarta Utara terhadap lr Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tersebut, pihaknya menilainya sebagai yang belum berkekuatan hukum tetap, karena Ir Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) masih mengajukan banding. “Untuk itu, kami mengajak semua elemen masyarakat, termasuk Majelis Hakim PN Jakarta Utara, untuk menghargai hak-hak Ahok sampai kepada putusan hukum yang berkekuatan hukum tetap,” katanya.
(Eveerth Joumilena)

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...