AJI Kota Jayapura Kecam Pembatasan Liputan Tiga Jurnalis Metro TV, Jaya TV dan TVRI di Wamena

Kota Wamena (Eveerth Joumilena /LintasPapua)
JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Liputan Persidangan di Papua Belum Aman Bagi Wartawan, hal ini terjadi akibat adanya Pembatasan kebebasan pers dalam kegiatan peliputan di pengadilan di wilayah Papua kembali terjadi., yakni Tiga wartawan televisi dari Metro TV, Jaya TV, dan TVRI.

Kejadian ini diduga mendapatkan intimidasi saat meliput sidang lanjutan terkait perkara Pilkada Kabupaten Tolikara dengan tersangka lima komisioner KPUD Tolikara di Pengadilan Negeri Wamena pada Jumat (28/4/2017) pada pukul 10.45 WIT.

Ricardo Hutahean, Jurnalis dari Metro TV bersama dua rekannya diintimidasi setelah mengambil gambar dalam persidangan.

Ricardo pun menuturkan, Ketua Majelis Hakim pun sempat menanyakan kehadiran mereka sebelum persidangan dimulai. “Setelah memberikan penjelasan dan menunjukkan kartu pers, akhirnya kami diperbolehkan mengambil gambar,” tuturnya.

Seusai mengambil gambar, ketiganya berkumpul di salah satu ruangan di PN Wamena. Tiba-tiba sekitar 20 oknum warga mendatangi mereka di ruangan tersebut.

Mereka menginterogasi ketiga jurnalis tersebut dan menanyakan maksud pengambilan gambar dalam sidang kasus Pilkada di Tolikara.

Bahkan ada salah satu oknum warga dalam kondisi dipengaruhi minuman beralkohol. Mereka pun mengancam dan mengeluarkan kata makian bagi Ricardo dan kedua rekan wartawan untuk menghapus video hasil liputannya.

Kota Wamena Kabupaten Jayawijaya, dilihat dari ketinggian. (Eveerth Joumilena /LintasPapua)

Ketiga wartawan itu pun berupaya menjelaskan tentang fungsi pers yang akan memberikan informasi yang berimbang bagi publik. Sayangnya para oknum warga tersebut tidak menerima penjelasan dan hendak memukul mereka. Demi keamanan, ketiganya terpaksa menghapus video hasil liputannya.

Sebelum meninggalkan ruangan tersebut, puluhan oknum warga tersebut mengancam akan mencari ketiga wartawan itu apabila hasil liputannya dipublikasikan.

“Kami sangat menyesalkan karena tidak ada anggota polisi yang berseragam dalam persidangan tersebut. Padahal kami telah berkomunikasi dengan Kapolres Jayawijaya sebelum persidangan untuk meminta pengamanan,” ungkap Ricardo.

Terkait kejadian tersebut, Koordinator Divisi Advokasi, Fabio Maria Lopes Costa mengatakan, bahwa Aliansi Jurnalis Independen Kota Jayapura menyesalkan tak adanya jaminan keamanan bagi awak media khususnya dalam peliputan kasus-kasus yang sensitif di PN Negeri.

Sebelumnya pada 21 November 2016 lalu, juga terjadi kasus pemukulan atas stringer Metro TV Maikel Marey oleh salah satu oknum anggota DRPD Paniai.

AJI Jayapura menyerukan, agar pimpinan Pengadilan Tinggi Papua segera mengeluarkan instruksi bagi seluruh pimpinan Pengadilan negeri di Papua agar memberikan kebebasan bagi awak media untuk meliput segala kasus dalam persidangan.

“Kami pun meminta agar pimpinan Polda Papua juga memberikan arahan bagi seluruh pimpinan Polres untuk memberikan perlindungan bagi awak media yang bertugas di persidangan,” katanya.

Tugas wartawan hanya memberikan informasi bagi publik dan tak memiliki kepentingan apapun. Semuanya itu untuk memberi masukan bagi Forkompimda untuk mengeluarkan kebijakan atau program demi terciptanya bonum commune atau kesejahteraan bersama. (***)

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...