BPP GEPENTA Papua Akan Gelar Workshop Bahaya Miras dan Narkoba

Ketua BPP Gepenta Papua, Otniel Deda, Ketua Panitia Workshop Yulianus Dwaa dan panitia workshop saat jumpa pers di Kotaraja. (ISTIMEWA)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Miras dan Narkoba merupakan ancaman yang paling bahaya bagi generasi muda Papua, berdasarkan survey Badan Pengurus Provinsi (BPP) Gerakan Nasional Peduli Anti Narkoba Tawuran dan Anarkis (Gepenta) Papua, pembeli miras ditoko-toko mayoritas anak asli Papua, demikian juga korban dari penyalahgunaan narkoba khususnya ganja masih mayoritas anak asli Papua.
Untuk mengantisipasi dan menekan angka pengguna miras maupun narkoba dikalangan generasi muda Papua, BPP Gepenta Papua akan menggelar workshop yang melibatkan pihak-pihak yang berkompeten, seperti pejabat pemerintah daerah, BNNP Papua, Polda, Kodam, Lantamal, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial dan DPR Papua.

 

Ketua BPP Gepenta Papua, Otniel Deda mengatakan,  workshop yang akan digelar Sabtu (8/4/2017) di hotel Fave Hotel Jayapura,  merupakan bentuk kepedulian dan keprihatinan BPP Gepenta terhadap masa depan generasi muda Papua, yang dikutip dari Koran Harian Pagi Papua.

 

“Jika generasi mudanya mengkonsumsi miras dan mengkonsumsi ganja, bagaimana masa depannya. Karena bagaimana pun juga mereka adalah masa depan Papua, oleh karena itu kami menggelar workshop ini, dengan materi masalah miras dan narkoba dan dampaknya,” katanya kepada wartawan Rabu (5/4) di Kotaraja.

Ia merasa prihatin,  baru-baru 32 pelajar SMP dan SMA digelandang ke Polsek Nimbokrang karena ketahuan tengah pesta ganja, ini membuktikan bahwa anak-anak dan remaja sudah menjadi target para pengedar narkoba, kalau dibiarkan terus maka korbannya akan semakin banyak dan ini berdampak pada SDM Papua dimasa yang akan datang.

Oleh karena itu workshop yang  pesertanya  500 orang ini mayoritas   pelajar dari kota dan kabupaten Jayapura, mahasiswa, komponen pemuda,tokoh masyarakat, tokoh perempuan juga LSM pemberdayaan.
Sementara itu, Ketua Panitia Workshop, Yulianus Dwaa mengatakan,  persiapan panitia jelang pelaksanaan workshop sudah 90 persen tinggal pelaksanaan saja.
“Kami sudah siap tinggal pelaksanaannya saja,” katanya.

Diakuinya dalam workshop ini akan dibagi perkomisi, masing-masing komisi membahas tupoksinya masing-masing, dari pembahasan ini akan menjadi rekomendasi yang nantinya diserahkan ke DPR Papua untuk ditindak lanjuti menjadi perda atau SK Gubernur.

“Yang menangani masalah narkoba, miras  terstruktur seperti KPA yang menangani HIV/Aids itu belum ada,padahal bahaya miras dan narkoba bisa berujung HIV/Aids, misalnya sudah miras atau mengkonsumsi narkoba, diluar kesadaran mereka melakukan seks yang tidak sehat, selain itu kasus-kasus kecelakaan lalulintas, KDRT salah satu pemicunya miras, jadi kelembagaan yang menangani masalah miras dan narkoba itu harus ada sampai ke tingkat bawah dalam hal ini distrik dan kelurahan,” jelasnya. (nn/ Koran Harian Pagi Papua)

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...