Ternyata Benar, Kesehatan Warga Suku Koroway Memprihatinkan Tanpa Perhatian Pemerintah

Dandim 1711/BVD, Letkol Inf. Raymond P. Simanjuntak,SE, yang turun langsung bertemu warga Suku Korowai, Jumat (31/3). (ISTIMEWA)

JAYAPURA (HPP)  – Jika melihat aksi – aksi peduli Pendidikan dan Kesehatan Suku Korowai, ternyata benar, jika Kampung Danowage, Distrik Yaniruma, Kab. Boven Digoel merupakan salah satu daerah terpencil di wilayah Kab. Boven Digoel, suatu tempat asal dari Suku Koroway, kini sangat memprihatinkan masalah kesehatan dan pendidikan disana.

 

 

 

 

 

Hal ini  ikut menjadi perhatian dari Dandim 1711/BVD, Letkol Inf. Raymond P. Simanjuntak,SE, yang turun langsung bertemu warga tersebut, Jumat (31/3/2017), sekaaligus berjanji akan menyampaikan kepada Pemerintah Daerah setempat untuk berikan perhatian.

 

“Saya secara langsung kondisi wilayah binaannya tersebut dan cukup prihatin dengan apa yang dirasakan warga masyarakat di kampung ini. Saat berbincang-bincang bersama warga,” ujar Dandim 1711/BVD, Letkol Inf. Raymond P. Simanjuntak, saat dikonfirmasi, Jumat (31/3).

 

Dandim menyatakan, akan membantu sekuat tenaga untuk memajukan Kampung Danowage, terutama masalah yang terkait dengan pendidikan dan layanan kesehatan.

“Kedatangan saya ke kampung ini untuk melihat kondisi terkini masyarakat kampung Danowage, sehingga nantinya kami dapat memberikan masukan kepada Pemerintah Daerah, agar kampung ini bisa mendapat pioritas pembangunan, terutama dibidang kesehatan, pendidikan serta bidang sosial dan kesejahteraan masyarakat lainnya,” katanya.

 

Ditambahkan,  guna mewujudkan kepeduliannya dengan warga masyarakat, dalam kesempatan tersebut Dandim memberikan bantuan kepada anak-anak suku Koroway berupa beberapa bahan kebutuhan pokok, diantaranya Mie Instant, Beras, Gula, Kopi, Saus, Kecap dan pakaian bekas layak pakai.

Suasana Penyaluran Bantuan Untik Warga Suku Koroway dari Dandim 1711/BVD, Letkol Inf. Raymond P. Simanjuntak,SE, (ISTIMEWA)

Sementara itu, Tokoh Masyarakat Kampung Danowage, Thomas Kogoya, berharap Dandim dapat menjadi penyambung lidah warga masyarakat kepada Pemerintah Daerah tentang kondisi Kampung mereka.

“Agar mendapatkan perhatian serius sehingga warga bisa merasakan pembangunan yang sama dengan kampung lainnya yang sudah maju dan mandiri,” tuturnya berharap.

 

Sebagaimana diketahui, Suku Koroway hidup yang terletak di perbatasan antara Kabupaten  Boven Digoel dengan Kabupaten Pengunungan Bintang, Asmat dan Yahukimo.

Kampung tersebut merupakan Kampung yang terisolir dan hanya bisa dijangkau dengan transportasi pesawat udara dengan waktu tempuh sekitar 30 menit dari wilayah Tanah Merah serta melalui sungai-sungai kecil yang bermuara ke Sungai Digoel, memakan waktu perjalanan sekitar 1 (satu) Minggu.

 

Secara umum, informasi yang diterima dari Dandim menyebutkan, bahwa Kampung ini belum memiliki fasilitas yang disediakan Pemerintah Daerah, seperti Perumahan layak huni, Sekolah, Puskesmas, Balai Kampung dan fasilitas umum lainnya, sehingga masyarakat berharap adanya perhatian serius dari Pemerintah Daerah Kabupaten Boven Digoel untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Seorang Warga Suku Korowai, saat menuruni pohon dari rumahnya diketinggian (Istimewa)

Sebelumnya, Masalah Pendidikan dan Kesehatan di Papua secara khusus warga masyarakat Suku Korowai perlu mendapat perhatian serius, hal ini mendorong Tim Peduli Kesehatan dan Pendidikan (TPKP) Rimba Papua bersama masyarakat Papua,  menggelar aksi demo damai ke DPR Papua,  Rabu (29/3).

 

Hal ini dibenarkan  Ketua Tim Peduli Kesehatan dan Pendidikan (TPKP) Rimba Papua, Norberd Kemi Bobii, saat dikonfirmasi Harian Pagi Papua,  sekaligus menjelaskan, bahwa aksi damai ini dilakukan, sebagai “Refleksi Kemanusiaan ditengah derasnya Otonnomi Khusus dan melimpahnya laba Freeport dan ditengah persaingan era moder.

 

“Masalah kesehatan yang kini diterjang hingga mengalami peningkatan derajat kesehatan di Papua perlu dipandang sebagai salah satu titik keberhasilan bagi rakyat Papua dan pemerintahan, akan tetapi tidak begitu banyak perhatian oleh berbagai kalangan oleh karena dampak perubahan yang diberikan oleh pemerintah cukup signifikan,” ujar Ketua Tim Peduli Kesehatan dan Pendidikan (TPKP) Rimba Papua, Norberd Kemi Bobii, di Jayapura, Selasa (28/3)  lalu..

 

Dikatakan, Masalah Pendidikan dan Kesehatan di papua secara khusus Korowai, perlu mendapat perhatian serius dan perlu dipandang dengan seksama bahwa ada kelonggaran berpikir dari setiap komponen yang berwenang baik mahasiswa hingga pemerintah pusat.

 

Anak- anak Suku Korowai dalam sebuah rumah (ISTIMEWA)

“Pembiaran yang dilakukan nampaknya akan sangat berdampak terhadap angka harapan hidup yang kian menipis atau rendah. sehingga berdampak pada pendidikan dan ekonomi masyarakat setempat,” katanya.

 

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih (Faked – Uncen) ini mengajak, untuk semua masyarakat peduli kemanusiaan kesehatan pendidikan di Papua, maka wujudkan kebiasaan diskusi kita dengan aksi demo damai kemanusiaan secara bersama di Kantor DPRP Papua hari Rabu 29 Maret 2017.

 

“Korelasi antar Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemda stempat agar dapat berkorelasi bersama baik eksekutif maupun legislatif agar persoalan ini benar-benar selesai dan diperhatikan secara berkelanjutan,” kata Mahasiswa Asal Deiyai ini.  (Eveerth Joumilena)

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...