Green Youtefa Performing Art 2017 Diakhiri Dengan Ajakan Peduli Lingkungan

Category: Lintas Papua 26 0
Ibu Bumi (Maharani) bersama Penari Lumpur, saat memperagakan tarian akibat limbah sampah yang merusak lingkungan di Abesauw Teluk Youtefa (Eveerth Joumilena /LintasPapua.com)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) –  Forum Peduli Port Numbay Green (FPPNG) bekerja sama dengan LMA Port Numbay greenn, dan ISBI Tanah Papua menggelar Green Youtefa Permorming Art (GYPA) 2017, bertempat di Abesauw Teluk Youtefa, Depan Pasar Youtefa, Sabtu (25/3), sebuah pesan penting yang didapat dengan berakhirnya ivent ini , yakni kita harus peduli dan  menjaga lingkungan dan jangan hanya bisa merusaknya tanpa menjaganya.

 

 

Kegiatan GYPA 2017 ini dihadiri Kepala Bidang Destinasi Sadar Wisata Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Jabez Yosia, Ketua LMA Port Numbay George Awi, Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura, Bernard Fingkreuw, Rektor ISBI Tanah Papua, I Wayan Ray dan juga masyarakat Kampung Enggros, Tobati dan Nafri serta Tan dan Monj Port Numbay 2017  dan Kepala Distrik Abepura, Bobby Awi, serta  semua masyarakat  Kota Jayapura.

Tan dan Monj Port Numbay 2017 dengan peragaan busana di Abesauw,, ikut meramaikan GYPA di Abesauw, dengan penampilan menggunakan bahan sampah sebagai bentuk kampanye untuk masyarakat menjaga lingkungan dan tidak buang sampah sembarangan (Eveerth Joumilena /LintasPapua.com)

Ketua Panitia GYPA 2017, Fredy Wanda mengatakan,  kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan, terutama Teluk Youtefa yang semakin hari tercemar limbah kotor dari Kota Jayapura. Serta bertujuan utamanya kami, menyelamatkan Teluk Youtefa.

 

 

 

 

 

 

 

 

“Apa yang dilakukan selama ini mendapat perhatian dari mama-mama yang berada di tiga kampung di Teluk Youtefa. “Ini dibuktikan dengan keikutsertaan mama-mama dalam kegiatan untuk penyelamatan Teluk Youtefa. Mereka menjerit hutan mereka sudah habis matapencaharian mereka juga teracam karena tumpukan sampah dari Kota Jayapura,” ujar Fredy Wanda, dalam sambutannya.

 

 

Style GYPA 2017

Ketua Forum Peduli Port Numbay Green (FPPNG) yang juga Ketua Panitia kegiatan Fredy Wanda mengatakan acara tesebut merupakan bentuk kepedulian para aktivis lingkungan yang mempunyai latar belakang berbeda namun satu tujuan, melindungi Teluk Youtefa dari pencemaran lingkungan.

 

 

 

 

Musik dari Bekas Sampah Botol dan Plastik digunakanm oleh perwakilan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Papua, saat GYPA 2017 di Abesauw. (Eveerth / LintasPapua.com)

 

“Momen puncak ini untuk menyuarakan kondisi kerusakan kawasan pesisir Teluk Yotefa yang didiami tiga kampung, yakni Tobati, Engros, dan Nafri akhirnya bisa digelar kegiatan Green Youtefa Performing Art,” kata Fredy Wanda.

 

 

 
Dermaga Abesauw yang terletak di bibir pantai Teluk Youtefa, Distrik Abepura sebagai panggung alam, kata dia lagi, menunjukkan bukti konkret ada hal yang harus segera dipikirkan dan ada kesadaran yang harus ditumbuhkan.

 

“Teluk Youtefa kian terancam dari berbagai sisi. Tak hanya soal sampah yang menjadi hal klasik, tetapi juga tinggi angka pencemaran air, udara, laju sendimentasi hingga abrasi termasuk bergeser nilai-nilai kearifan lokal,” katanya pula.

Baca Juga :  Gubernur Minta Mahasiswa Papua di Yogyakarta Jauhi Miras

 

 

 

 

 

 

 

Tarian Asamat ikut dalam kolaborasi pentas GYPA 2017 (Eveerth/LintasPapua.com)

Berdasarkan kondisi itulah, kata dia, sebuah event bertajuk Green Youtefa Performing Art (GYPA) digelar untuk mengimbau dan mengajak masyarakat sekitar Teluk Youtefa dan pada umumnya warga Kota Jayapura bahwa kondisi Teluk Youtefa sudah sangat memprihatinkan.

 

 

 

 

 

 

“Ketika kondisi lingkungan tak bersahabat, sehebat apa pun kita tentu sulit melawan dampak negatif yang muncul dimana-mana. Lewat GYPA ini kami mencoba menyuarakan, melakukan protes dan menunjukkan kondisi riil apa yang sedang terjadi dan kemungkinan terjadi,” katanya.

 

 

Panitia Mengambil Peran penting menjadi pemain dalam pentas GYPA 2017, (LintasPapua.com)

Fredy menambahkan, GYPA hanya sebagai pemicu untuk menumbuhkan kesadaran, sebab yang utama adalah mengubah sikap kurang peduli dengan teluk yang awalnya disebut Youth Faa oleh masyarakat setempat.

 

 

Sementara itu, Iam Murda, akademisi dari Kampus ISBI Tanah Papua yang menjadi koreografer panggung dan tari GYPA mengatakan, GYPA digagas oleh anak-anak muda yang memiliki visi perubahan, menggugah lewat cara dan ide kreatif dari kemampuan masing-masing yang dimiliki.

 

 

“Kami tidak terlalu kaku dengan panggung konvensional. Apa yang alam berikan dengan bentuk apa pun itulah yang akan jadi panggung teman-teman nanti. Mereka akan mengeksplorasi kondisi apa saja di lapangan,” kata Iam Murda.

Mama – Mama dari Kampung Enggros sedang berada di Hutan Perempuan, mencari kayu dan bahan kehidupan, namun terhalang oleh sampah – sampah plastik. (Eveerth Joumilena /LintasPapua.com)

Ia menyebutkan GYPA akan menampilkan cerita hutan perempuan yang perlahan hilang, perlawanan peri bumi dengan raja sampah, sajian musik ansambel, teater, termasuk foto sejarah tentang teluk itu sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembina GYPA, Ketua LMA Port Numbay, George Awi mengatakan bahwa masyarakat kota tak boleh berpaling dari kerusakan Teluk Youtefa, mengingat teluk ini telah memberi makan ribuan orang.

Kepala Bidang Destinasi Sadar Wisata Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Jabez Yosia, saat diantar Tan dan Monj Port Numbay (Eveerth/LintasPapua.com)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

GYPA 2017 melibatkan kurang lebih 80-an penari yang menampilkan berbagai pertunjukan diantaranya, teatrikal yang bertajuk peduli terhadap lingkungan, khususnya Teluk Youtefa yang dihuni tiga kampung, yakni Kampung Tobati, Kampung Enggros dan Kampung Nafri.

 

Keceriaan bersama Monj Port Numbay 2017di Abesauw (LintasPapua.com)

 

Pertunjukan ini melibatkan mahasiswa ISBI Tanah Papua, siswa SMA Jayapura, mama-mama dari Kampung Enggros dan juga perwakilan sekolah dasar di Kota Jayapura. Dalam teatrikal yang dilakukan peserta menggunakan pakaian dari sampah daur ulang yang berada di Teluk Youtefa.

Baca Juga :  PBB Harus Bangun Dialog Konstruktif Untuk Masalah HAM Papua

 

 

 

 

Suasana Pentas GYPA dipenuhimasyarakatyang datang ke Abesauw (Eveerth/ LintasPapua.com)

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Internalisasi dan Pengembangan Sadar Wisata Kementerian Pariwisata, Yabes Yosia mengatakan persoalan sampah itu bukan persoalan sekelompok orang saja tetapi sudah menjadi persoalan bersama, jadi sudah seharusnya diadakan kampanye perang terhadap sampah plastik.

 

 

 

 

 

Hal ini dikatakan Yosia kepada sejumlah wartawan saat mengikuti Green Yotefa Performing Art 2017, di Pantai Abesauw, Distrik Abepura, Sabtu (25/3).

 

“Kampanye perang terhadap sampah plastik yang tentunya itu dimotori, diprakarsai oleh Pemerintah. Kemudian nanti ada pemerhati lingkungan, ada lembaga Swadaya Masyarakat (SDM) yang memang peduli lingkungan akan bersinergi bersama-sama untuk kita menyadarkan masyarakat,” ungkapnya.

 

 

Sebuah Penampilan saatGYPA 2017 (Eveerth /LintasPapua.com_)

Ditambahkan, bahwa kesadaran masyarakat itu sangat penting sekali, terutama yang tinggal di daratan sekitar Teluk Youtefa.

 

 

“Hal ini harus menjadi perhatikan khusus dari Pemerintah Kota Jayapura kedepan, sebab jika dilihat dari kacamata pariwisata, kegiatan Green Yotefa Performing Art (Seni Pertunjukan Peduli Lingkungan di Teluk Yotefa) ini sangat strategis sebagai upaya untuk menyadarkan masyarakat,” akuinya.

 

 

 

 

Dirinya berharap,  hal ini juga menjadi cara berkampanye, jika dilihat dari sisi pariwisata adalah sadar wisata, sedangkan dilihat dari sisi lingkungan adalah kampanye go green.

Manusia Plastik kompak foto bersama (LintasPapua.com)

 

“Kedua-duanya ini bersinergi untuk kepentingan diri kita sendiri, kesehatan kita dan juga untuk kepentingan dari sisi pariwisata itu ialah untuk menarik kunjungan wisatawan,” tuturnya.

 

 

 

 

 

Suasana Menjual Cenderawasih Imitasi saat GYPA 2017 di Abesauw (LintasPapua.com)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Yosia berharap, kedepannya apabila suatu destinasi itu terjamin lingkungannya yang sapta pesona, antara lain, mengenai kebersihan lingkungan, keamanan dan kenyamanan, maka suatu destinasi itu akan punya nilai jual yang besar.  (Eveerth Joumilena)

 

 

Related Articles