Hari ini, Ribuan Massa Aksi Solidaritas Peduli Freeport di Timika

Category: Lintas Papua 30 0
http://ptfi.co.id/id

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  – Menindaklanjut aksi Gerakan Solidaritas Peduli Freeport (GSPF) di Timika Istana Presiden Republik Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia pada 7 Maret 2017, maka kami akan kembali melakukan aksi lanjutan di Timika.

 

Hal ini disampaikan Perwakilan Gerakan Solidaritas Peduli Freeport (GSPF),  Natalia Nauw, sekaligus menjelaskan, bahwa dalam aksi ni juga menjadi bagian dari gabungan elemen masyarakat dan karyawan/karyawati di lingkungan Pt Freeport Indonesia (PTFI),  privatisasi, kontraktor dan sub kontraktor di Timika.

“Aksi ini akan dilakukan bersama-sama dengan elemen masyarakat lainnya di Timika, diantaranya,  Lembaga Adat Suku Amungme (LEMASA),  Lembaga Adat Suku Kamoro (LEMASKO), Yayasan Hak Asasi Manusia Anti Kekerasan (YAHAMAK)  dan   Gerakan Moral Amungme Kamoro serta  Perwakilan Paguyuban-Paguyuban di Timika,” ujar Natalia Nuw, dalam release informasi yang diterima LintasPapua.com, Kamis (23/3/2017)

 

Dijelaskan, bahwa aksi damai dipastikan  hari iniu, Kamis, 23 Maret 2017 dari pagi sampai jam 5 sore, bertempat di Bundaran Timika Indah, Mimika, Papua

Disampaikan, bahwa bebeerapa ainformasi penting yang harus dietahui jika PT Freeport ditutup, yakni Penurunan/keterlambatan Perekonomian di Papua khususnya Kabupaten Mimika, karena 94 % Mimika digerakan oleh Kegiatan Pertambangan Freeport Indonesia;

http://ptfi.co.id/id

“Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akan terus terjadi sebagai tindakan efisiensi karena Produksi tambang Freeport hanya mencapai 40% dipastikan berkurang sampai (Berhenti Investasi   dipastikan 2019 Freeport hanya berproduksi 20 % hingga 30%),” katanya.

 

Beberapa argumentasi yang dikemukakan adalah jika PT Freeport ditutup, adalah adanya  Gejolak sosial atau terjadi dan tindakan kriminal di lingkungan  masyarakat meningkat akibat PHK Karyayawan Freeport,  Privatisasi dan Kontraktor.

 

“Program – program pengembangan dan pembinaan masyarakat  Lokal di bidang sosial dan ekonomi akan berhenti  Program Pengembangan pendidikan lewat D3 administrasi dan  Apprentize pada Nemangkawi Institute Tehnologi dihentikan,” katanya.

 

Bantuan Dana Pendidikan di Lingkungan 7 suku tidak dilanjutkan/diberhentikan ( Biaya Pendidikan Di Luar Negeri dan Di Luar Papua juga dihentikan mengakibatkan banyak anak – anak sekolah dan mahasiswa putus sekolah dan kuliah dan akan kembali ke Timika.

Baca Juga :  Pengusaha Asli Papua Siap Terima 400 Paket Pekerjaan di Dinas PU
http://ptfi.co.id/id

“Bantuan Pendidikan ke sekolah sekolah yang ada di Kabupaten  Mimika dihentikan(LPMAK di TUTUP) dan  Program pengembangan dan pelayanan kesehatan masyarakat di kampung – kampung lewat LPMAK termasuk pengirimantenaga medis dan obat obatan berhenti.

 

Transportasi masyarakat antar kampung dataran rendah (Nayaro, Nawaripi dan Koperapoka) menurun drastic serta Fasilitas Transportasi kepada masyarakat Timika Tembagapura atau dengan menggunakan fasilitas Chopper ke Kampung – kampung di Dataran Tinggi berhenti.

 

APBD Kabupaten Mimika yang bersumber dari Pajak PBB dan Sektor Pertambangan untuk membantu pembangunan

infrastruktur Kabupaten Mimika dihentikan (seperti : Sport Complex, PAM, jembatan, jalan, RSMM, Kantor Bupati Mimika, dan lain – lainnya).

http://ptfi.co.id/id

“Pelayanan Transportasi Udara atau Bandara Internasional Moses Kilangin dihentikan ( Bahan Bakar Avtur) kepada pemerintah dan masyarakat umum berkurang serta Tanggul penahan tailing jebol jika tidak terawat dan akan menggenagi seluruh kota Timika serta Perusahaan – Perusahaan kontraktor yang bekerjasama dengan PTFI dihentikan beroperasi,” jelasnya.

 

Ditambahkan, juga Pelayanan kesehatan masyarakat 7 suku lewat RS Mitra Masyarakat dan RS Waa Banti dan Klinik -klinik di Kwamki Lama, Mapuru Jaya dan SP, termasuk  Malaria Control terhenti dan Dana Perwalian dan Pengembangan untuk 2 suku besar Amungme Kamoro Dihentikan.

 

Sementaraitu, Seorang Karyawan PT. Freeport indonesia, Pakris Umbora mengatakan, bahwa  Gerakan Solidaritas Peduli Freeport (GSPF) terbentuk secara natural atas dasar hati nurani akibat adanya kekhawatiran bersama di kalangan karyawan.

 

“Dengan mandiri mencoba untuk berusaha untuk mencari jalan keluar dari polemik antara perusahaan dan pemerintah agar keberadaan sebagai karyawan yang mencari nafkah tidak terganggu,” katanya.

 

http://ptfi.co.id/id

Disampaikan, bahwa dari puluhan ribu karyawan yang ada tidak dapat dipungkiri kalau ada saja perbedaan pandangan karena masing-masing belajar dari pengalaman atas latar belakang dan keberadaan perusahaan serta gaya pemerintahan negeri ini.

 

“Melihat adanya perbedaan yang ada GSPF membuka ruang seluas mungkin agar semua karyawan terlibat tanpa perbedaan apapun untuk bebas memberikan usul, saran dan masukan secara terpimpin menuju satu tujuan yaitu memastikan keberadaan dan kelangsungan lapangan kerja kita bersama “piring makan”,” ucap Pakris Umbora.

Baca Juga :  Gubernur Maluku Dukung Program Emas Hijau Biru Pangdam Pattimura

 

Ditambahkan, bahwa menyadari keberadaan lapangan kerja dan multi efeknya terhadap perekonomian, sosial dll, GSPF juga membuka ruang dan menjalin komunikasi dengan berbagai pihak terkait, agar mendapat masukan dan dukungan atas dasar pemahaman yang sama.

 

“Bahwa keberadaan lapangan kerja dan perusahaan ini bermanfaat dengan tetap menghormati pandangan berbeda yang timbul atas dasar penilaian dari sisi yang lain, oleh karena itu GSPF tidak akan menghalangi individu atau kelompok yang memandang dari sisi lain, dengan harapan kepada semua karyawan dan penerimaan manfaat lainnya terus berusaha agar keberadaan lapangan pekerjaan ini tetap ada dan lebih bermanfaat lagi untuk hal” yang dirasakan belum sesuai,” ungkapnya, dalam sebuha tulisan di laman facebokknya.

Diakui,  karyawan melalui GSPF dan semua pihak yang memiliki kesamaan pandangan akan terus mendorong pemerintah dan perusahaan untuk segera mencapai solusi atas polemik ini.

http://ptfi.co.id/id

Sebelumnya, pada  pada  Sejak Selasa (7/3/2017) pagi, ratusan karyawan PT Freeport  Indonesia (PTFI) berkumpul di depan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta Pusat.

Sebagian karyawan ada yang menggunakan alat pelindung diri, lengkap mulai dari sepatu hingga helm, layaknya saat mereka bertugas di PTFI. Sebagian dari mereka ada pula yang menggunakan baju adat khas Papua.

Aksi demonstrasi berjalan dengan sangat tertib yang diiringi musik dari mobil yang membawa pengeras suara. Seorang karyawan menjelaskan mereka yang datang terdiri dari berbagai jabatan pekerjaan yang telah dirumahkan. Dengan aksi ini para karyawan berharap agar PTFI dapat kembali beroperasi sehingga mereka bisa kembali bekerja. (Eveerth Joumilena)

Related Articles