LMA Port Numbay Dukung FPPNG Gelar Green Yotefa Performing Art

Category: Lintas Papua 24 0

“Jangan Mengaku Bangga Dengan Teluk Youtefa, Tetapi Tidak Peduli Lingkungan”

Suasana Rapat di kediaman Ketua LMA Port Numbay di Tanah Hitam Abepura (Foto Eveerth/Harian Pagi Papua)

JAYAPURA (Harian Pagi Papua )  – Lembaga Musyawarah Adat (LMA) Port Numbaymenyatakan dukungan penuh atas rencana Forum Peduli Port Numbay Green (FPPNG) akan menggelar event Green Youtefa Performing Art (GYPA) pada bulan ini (Maret) di Teluk Youtefa, Kampung Enggros.

Hal ini disampaikan Ketua LMA Port Numbay, George Awi, sekaligus menjelaskan, bahwa pihaknya akan mendukung kelompok yang peduli  dan   terus berjuang menyelamatkan Teluk Youtefa.

“Karena saat ini dan selalu terus menerus Teluk Youtefa telah rusak akibat perilaku masyarakat di kota, sehingga kegiatan yang membangun kesadaran masyarakat untuk peduli lingungan, tetapi LMA mendukung penuh,” ujar George Awi, dalam diskusi bersama Ketua Forum Peduli Port Numbay Green (FPPNG) Fredy Wanda, konsultan pariwisata papua Jackelin Patodi Galatang, Kadistrik Abepura Bobby Awi dan sejumlah dosen ISBI Tanah Papua di kediaman Ketua LMA Port Numbay di Tanah Hitam Abepura, Senin (13/3).

 

Dikatakan,  abwha  LMA siap kawal  Soal Isu Lingkungan  dan akan berdiri paling depan,  bahkan  tidak akan memberi toleransi atas perilaku warga yang tak menghargai keberadaan tiga kampung, Tobati,  Engros dan Nafri sebagai masyarakat yang mendiami Teluk Youtefa.

Baca Juga :  John Wempi Wetipo Maju Cagub Papua Ikuti Mekanisme Partai

 

Abesauw Teluk Youtefa , kondisi memprihatinkan dan butuh kepedulian manusia untuk menata lingkungan ini (Foto : Eveerth /Harian Pagi Papua)

“Saat ini banyak sekali orang yang hanya berujar bangga dengan Teluk Youtefa,  namun tak mau ikut menjaga, sebabbya tiga kampungini menjadi sasaran dari perilaku buruk yang merusak lingkungan hingga berdampak ke laut wilayah Teluk Youtefa,” katanya.

 

 

Mantan Anggota Majelis Rakyat Papua ini menambahkan,  bahwa pihakya berkomitmen untuk berdiri sebagai  pemilik negeri dan tidak harus dikorbankan.

 

 

“ Saya akan berdiri paling depan untuk penyelamatan teluk. Saya juga meminta kelompok peduli untuk tetap bekerja dengan rencana kegiatan tersebut, ” ucapnya.

 

 

TELUK YOUTEFA dengan keindahannya di pagi hari (Foto Eveerth / Harian Pagi Papua)

 

Dirinya menjelaskan,  sesuai rencana di lokasi dermaga Abesauw juga akan digelar  ivent lingkungan yang mengangkat isu kearifan lokal yang mulai hilang  rusaknya hutan mangrove.

 

“Bahkan  sendimentasi hingga sampah dan limbah yang semuanya bermuara di Teluk  Youtefa, sehingga jangan hanya bangga saja, tetapi harus peduli,”  pesannya.

 

 

 

Kondisi Abesauw yang kurang mendapatkan perhatianj, tampa belakang dengan kondisi jembatan yang rusak dan pinggiran pantai menjadi dangkal akibat limbah pasir dan berbagai jenis sampah dari kota mengalir ke Teluk Youtefa (Foto : Eveerth Joumilena /Harian Pagi Papua)

 

 

 

 

Sementara itu,  Ketua FPPNG,  Fredy Wanda mengatakan,  pihaknya  dengan panitia yang ada  menggarap event Green Yotefa Performing Art (GYPA) pada bulan Maret ini.

Baca Juga :  PDIP Papua Utamakan Kader Dalam Penjaringan Cagub dan 7 Kepala Daerah

“Kegiatan yang melibatkan banyak semangat muda ini bisa ikut menjadi perhatian bagi pemerintah  dan  murni soal lingkungan yang digarap dalam bentuk seni,” jelasnya.

 

 

 

 

Dua Anak Sekolah Saat Berdayung Pagi Hari dari Kampung Enggros untuk pergi kesekolah di Kota Abepura (Foto Eveerth /Harian Pagi Papua)

Ditambahkakn, bahwa  dengan moment ini hanya  ingin mengingatkan bahwa ada peduli yang belum kembali dan semua karena ulah kita.

 

 

“Teluk Yotefa dikatakan menjadi kebanggaan masyarakat kota namun selama ini masih minim kepedulian,” akuinya.

 

 

 

 

Sebagaimana diketaahui dari sekumpulan cerita yang berada di masyarakat tiga kampung ini ,  saat  masih remaja sering mandi di kawasan teluk dan  masih menemukan kuda laut dan akar bahar, namun  kini dengan berkembangnya kota Jayapura, justru  banyak sampah yang masuk ke laut dan semakin tidak jelas biota lingkungan laut terganggu dan rusak. (Eveerth Joumilena)

Related Articles