Sastra Lisan Papua Dinilai Makin Terpinggirkan

Category: Lintas Papua 16 0
SAVE CENDERAWASIH PAPUA (Istimewa)

JAYAPURA  (LP)  –  Papua terdiri dari lebih dari 250 suku dimana setiap suku memiliki bahasanya masing – masing. Dulu, orang – orang tua dikampung – kampung bertutur tentang cerita – cerita rakyat kepada anak – anak mereka, seperti yang dilakukan oleh generasi sebelumnya, namun kini Sastra Lisan makin terpinggirkan.

 

“Setiap suku (di Papua) punya tradisi, salah satunya adalah sastra daerah lebih khususnya cerita rakyat atau teater tutur,” ujar Ketua Yayasan Bina Seni Budaya Papua (YBSB), Dominggus Rumbewas, saat dikonfirmasi, Rabu (8/2).

 

Dikatakan,  ada banyak cerita rakyat yang ada di Tanah Papua, seperti Legenda Kuri-Pasai dari Teluk Cenderawasih, asal-usul danau Sentani, legenda Manarmakeri dari Biak dan masih banyak lagi dimana setiap suku memiliki kisahnya masing – masing.

 

“Sayangnya, saat ini jumlah penutur semakin berkurang, sehingga cerita rakyat bahkan bahasa yang digunakan untuk menuturkan kian terpinggirkan bahkan terancam punah,” kata  Dominggus Rumbewas,

 

Dikatakan, bahwa bahwa manusia dan budaya adalah satu.  “Kalau budaya suatu suku terancam punah atau punah, secara budaya orang menilai itu dianggap tidak ada, lenyap karena budaya-nya tidak ada meski manusianya masih ada. Budaya itu yang menyatakan identitas suatu suku bangsa,”  tuturnya.

Baca Juga :  Petrus Yoram Mambai Beri Bobot di Pilgub Papua 2018

 

Rumbewas menambahkan, ada beberapa faktor yang mengancam tradisi cerita tutur, diantaranya budaya populer seperti cerita yang datang dari luar dikemas dalam bentuk sinetron serta kecenderungan anak – anak jaman sekarang yang tidak lagi menggunakan bahasa ibu mereka.

 

“Ini yang saya khawatir, jangan – jangan cerita dari luar mendominasi cerita rakyat kita yang begitu punya makna yang bagus, yang membina moral dan karakter,” tambahnya.

 

Sebagai upaya untuk melestarikan cerita rakyat, Yayasan Bina Seni Budaya Papua, menggelar pelatihan teater tutur bagi sanggar seni, guru dan siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap budaya, khususnya cerita rakyat yang dimiliki Papua. Pelatihan ini pun akan rutin digelar secara berkala.

 

Sementara itu, Dosen Sastra FKIP Universitas Cenderawasih, Adolina Lefaan,  mengatakan, bahwa kekhawatiran terhadap adanya ancaman budaya popular dari luar yang dianggap dapat menggerus  budaya Papua,  sehingga dirinya merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu agar budaya tutur tetap lestari.

 

“Meski saat ini budaya popular dari luar dinilai menjadi sebuah ancaman yang dikhawatirkan menggerus nilai – nilai kearifan lokal, namun Ibu Ina melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang positif, yakni bagaimana mengubah tantangan/ hambatan menjadi sebuah peluang,” ungkapnya.

 

Baca Juga :  Papua Terima Program Keluarga Harapan

Disampaikan, bahwa  Sinetron yang muncul sekarang ini merupakan sesuatu yang baik bagi perkembangan manusia di jaman modern.

 

“Saya tidak katakan ini menghambat perkembangan cerita rakyat, justru dengan hadirnya sinetron itu menjadi sesuatu yang baik untuk kami lokal Papua, terutama untuk akademisi bagaimana menggali cerita rakyat Papua atau tradisi lisan ini menjadi suatu action untuk mahasiswa dalam menyajikan cerita rakyat dijadikan film – film yang lebih kreatif lagi,” paparnya.

 

Lebih lanjut, Ina menceritakan bahwa dirinya secara pribadi telah membuat film dokumenter tentang legenda rakyat Papua dengan tujuan menjadi referensi bagi generasi muda sekaligus juga menjadi inspirasi agar kisah tersebut dapat diangkat menjadi sinetron.

 

Agar budaya Papua khususnya teater tutur tetap bertahan di tengah gempuran budaya popular dari luar.

 

Dominggus Rumbewas dan Adolina Lefaan sepakat pentingnya kerja sama antara dewan adat, seniman, pemerhati budaya dan pemerintah untuk mempertahankan budaya dan berupaya untuk menumbuhkan seni sebagai industri kreatif.  (Dhoto)

Related Articles