Kasus Kekerasan Anak di Sentani Diminta Diproses Hukum

Category: Lintas Papua 21 0
Ilustrasi Hentikan Kekerasan Terhadap Anak (http://www.sehatcenter.com)
Ilustrasi Hentikan Kekerasan Terhadap Anak (http://www.sehatcenter.com)

JAYAPURA (LP)  – Kekerasan anak masih terjadi dikalangan anak  – anak  usia pelajar, demikian yang dialami Jes alias JAH, di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, sehingga bagi keluarga tetap menghendaki adanya proses hukum apapun hasil keputusan nantinya.

 

Demikian disampaikan oleh Orang Tua Korban, Salbiah, sekaligus menjelaskan, bahwa saat ini dirinya terus berkonsultasi dengan semua lembaga bantaun anak hingga lembaga bantuan hukum, sehingga ada kejelasan dan proses hukum juga berjalan.

 

“Saya memang mencari ke kantor perlindungan anak di Kota Jayapura, yakni hanya PP2A, namun saya diarahkan ke PP2A Jabupaten Jayapura,bahkan sata disarakan untuk ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH), sehingga apapun keputusa akan saya menerima, namun  proses hukum harus berjalan,”  ujar Salbiah,  yang ditemui di Abepura, Selasa (11/10).

 

Ditambahkan, bahwa dirinya membutuhkan perlindungan  hukum, demikian untuk kasus ini telah masuk dilimpaahkan langsung ke Kejaksaan, sehingga kami tetap harapkan dukungan berbagai pihak.

Sebelumnya, diberitakan bahwa indakan tidak terpuji oleh siswa terjadi di Kabupaten Jayapura, dimana 12 orang siswa dari empat sekolah berbeda di Sentani menganiaya seorang  siswi Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Sentani berisial JAH (13 tahun).

 

Orang tua korban, Salbiah, yang ditemui wartawan, mengatakan, kejadian ini berawal pada Sabtu (1/10)  siang  sekitar pukul 13. 30 WIT, 2 orang pelaku bernama Gia dan Chia menjemput korban dirumahnya dengan alasan untuk hunting foto di Gunung Merah Sentani, namun dalam perjalanan korban dibawa ke Perumahan Sosial dan  dirumah tersebut sudah menunggu 10 orang pelaku lainnya, yang kemudian melakukan pengeroyokan terhadap korban.

Baca Juga :  Kini Fokus Kerja Pengacara, Christian Arebo Minta Maaf Untuk Gubernur Papua

 

“Anak saya di masukan ke dalam rumah kemudian pintu di kunci, lalu di keroyok oleh 12 orang. Anak saya dipukul, ditendang ditempeleng bahkan baju dan celananya dibuka. Tak itu saja alat kemaluannya mau di tusuk dengan gagang sapu ijuk, kemudian seluruh aksi mereka di buat video dan di sebarkan di lingkungan sekolahnya, ” ujar ibu korban dengan meneteskan air mata kepada wartawan di Polres Jayapura, Senin (10/9) siang. Akibat perlakuan ke 12 siswi tersebut korban mengalami luka pada kepala. ” Hasil pemeriksaan dokter menyebutkan bahwa cairan penyeimbang otak pecah dan bisa fatal, ” katanya.

Orang tua korban yang tidak terima dengan perlakuan para siswa tersebut kemudian mendatangi sekolah tempat ke 12 siswi ini sekolah dan melaporkan kejadian tersebut ke pimpinan sekolah, Namun jawaban dari pihak sekolah menyampaikan bahwa kejadian tersebut terjadi di luar jam sekolah dan bukan tanggung jawab sekolah, sehingga dianjurkan untuk melapor ke pihak kepolisian.

Orang tua korban juga menyampaikan, keluarga para pelaku meminta agar dilakukan penyelesaian secara kekeluargaan atau berdamai. Namun karena kurang kooperatifnya keluarga pelaku, maka kasus ini dilanjutkan ke proses hukum.

Baca Juga :  Apolo Safanpo Terpilih Sebagai Rektor Universitas Cenderawasih

 

“Saya tidak mundur dan akan tetap proses hukum, sehingga saya harapakn dukungan polisi agar dapat melacak video – video kekerasan yang katanya telah beredar dikalangan anak – anak, saya tidak punya bekingan apapun, namun saya minta keadilan dalam proses hukum ini,” demikian harap orang tua korban.

 

 

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura, Alvius Toam mengatakan, bahwa proses hukum harus tetap jalan, sehingga memberikan efek jera kepada para pelaku kekerasan.

 

“Memang ini terjadi diluar linkungan sekolah, namun proses hukum harus tetap jalan dan aparat kepolisian harus tetap melakukan proses tersebut, bahkan sekolah akan kami lakukan evaluasi terhadap masalah yang terjadi,” katanya.

Dikatakan, bahwa Kabupaten Jayapura telah dicanangkan Sekolah Bebas Kekerasan, sehingga kalau ini terjadi adalah karena kasuistis, sehingga hal ini perlu pendampingan terhadap anak demi masa depannya.  (Dhoto Eveerth)

Related Articles