Lapas Tahanan dan Narapidana Perlu Terpisah

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Ham Kanwil Papua, Dra. Sarlota Merahabia, Bc. IP, SH, MH (LintasPapua.com/Eveerth Joumilena)
Kepala Divisi Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Ham Kanwil Papua, Dra. Sarlota Merahabia, Bc. IP, SH, MH (LintasPapua.com/Eveerth Joumilena)

JAYAPURA (LP)  –  Kepala Divisi Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Ham Kanwil Papua, Dra. Sarlota Merahabia, Bc. IP, SH, MH, mengatakan, sudah saatnya harus ada pemisahan antara ruang tahanan dan ruang narapidana dalam sebuah penjara.

 

“Memang selama ini masih di gabung dan perlu pemisahan  antara status tahanan dan status naraidana, termasuk juga untuk wanita dan anak,” ujar Sarlota Merahabia, di Abepura, Selasa (30/8).

 

Dikatakan, termasuk juga untuk Lapas Narkotika di Doyo Baru sudah saatnya ada pemisahan antara tahanan dan narapidana, sehingga tidak tergabung, karena melihat kapasitas dan daya tampung terbatas.

 

Sementara itu, Kepala Lapas Klas IIA Abepura, Bagus Kurniawan mengatakan,  jumlah warga binaan dan tahanan di dalam sebanyak 452 orang.

 

“Memang diakui daya tampung masih terbatas, dibandingkan dengan kapasitas yang terus bertambah, belum lagi uang makan hanya mampu berthan untuk tiga bulan kedepan, sehingga kami harapkan adanya perhatian dari pemerintah untuk hal ini,” haranya.

Terkait hal ini, Dinilai melebihi kapasitas, Dua Lembaga Pemasyarakatan di Provinsi Papua akan mendapatkan penambahan blok tahanan.

Sekretaris Dirjen Lapas Kementrian Hukum dan HAM RI, Sri Puguh Utami,  mengatakan, jika dua lapas yang akan mendapatkan penambahan blok tahanan tersebut adalah Lapas klas II A Abepura dan Lapas Klas II B Wamena.

“Di Lapas Abepura dan Lapas Wamena akan ada penambahan Blok tahanan, ini dilakukan untuk upaya peningkatkan kapasitas dan kwalitas baik itu kepada Napi maupun tahanan,” katanya, di kantor Perwakilan Kemenkumham Provinsi Papua, Jumat (2/9/2016). (Eveerth Joumilena)

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...