Gubernur Larang Cenderawasih Jadi Topi Penyambutan Tamu

Hiasan Kepala Dengan Burung Cenderawasih (LintasPapua.com)
Hiasan Kepala Dengan Burung Cenderawasih (LintasPapua.com)

JAYAPURA (LP)  –  Dalam banyak kegiatan selama ini Warga Papua atau masyarakat sering menyambut tamu dengan topi Burung Cenderawasih, hal ini menjadi ketegasan Gubernur Lukas Enembe untuk melarang burung surga tersebut, sebab Burung Surga Papua ini telah banya menjadi perburuan liar dari orang – orang yang tidak bertanggungjawab.

 

“Belum lagi soal burung surga, dimana  Cenderawasih yang terus diburu karena keindahannya, sehingga soal burung Cenderawasih, salah satunya nanti yang akan digaungkan untuk tidak lagi digunakan dalam kegiatan resmi dijadikan topi penyambutan tamu,” ujar Gubernur Papua, Lukas Enembe, dalam keterangan pers yang diterina LintasPapua.com, di Jayapura, Senin (22/08/2016)

 

Dikatakan, bahwa hal ini bisa diganti dengan imitasinya atau bentuk lainnya, sehingga tidak dengan mudah menjadi perburuan di Papua.

 

Penegasan ini disampaikan  menjelang Konferensi Keanekaragaman Hayati dan Kekayaan Budaya Papua akan digelar pada 7-10 Septmber 2016 di Kota Jayapura, dengan mengambil tempat di Gedung Sasana Krida, Kantor Gubernur Papua, termasuk akan dilaksanakan pameran budaya di GOR Cenderawasih selama pelaksanaan konferensi.

 

 

Mantan Bupati Puncak Jaya ini menuturkan, bahwa para pemilik hak ulayat tanah ataupun masyarakat di sekitar daerah wisata, tentunya akan dilibatkan untuk mendorong terciptanya ekowisata yang lebih cenderung kearah wisata konservasi alam.

“Dimana kearifan lokal akan dikedepankan sehingga nilai tambah yang dimaksudkan tadi bisa terwujud, ekonomi daerah bertambah dan Papua mempunyai nilai positif dimata dunia,” ucap Suami dari Ibu Yulce Enembe.
Ditambahkan,  terkait hal ini, saya sudah minta instansi terkait untuk mendata tempat-tempat yang pantas dan layak untuk didorong menjadi daerah ekowisata dan ekonomi kreatif.

“Termasuk meminta kepada panitia penyelenggara untuk nanti bisa mengantarkan para tamu undangan atau pun para peneliti serta akademisi dari luar negeri yang jadi peserta konferensi mengunjungi beberapa tempat wisata yang terjangkau dan bisa dijadikan contoh,” katanya.

 

Sementara itu, secara terpisah Sekretaris Indonesia Jurnalis Network (IJN) Papua – Papua Barat,  Abdel Gamel Naser, sekaligus menjelaskan, bahwa Burung Cenderawasih menjadi satu fauna yang dilindungi sesuai dengan undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Cenderawasih juga selalu menyimpan kebanggaan bagi siapa saja yang tinggal di Papua.

 

“Burung yang dijuluki sebagai Burung Sorga ini memiliki kecantikan dan keunikan yang tak dimiliki burung lain. Namun sayangnya  ditengah kebanggaan tersebut secara sadar tak sadar ada perilaku yang tak memperhatikan soal populasi dimana masih terjadi perburuan liar maupun perambahan yang perlahan-lahan memberi ancaman,” ujar Abdel Gamel Naser, dalam release press IJN Papua – Papua Barat, yang diterima sebelumnya belum lama ini.

cenderawasih

Dijelaskan, dari data yang diperoleh ada dua persoalan soal Cenderawasih di Papua, pertama soal populasi dan kedua berkaitan dengan pengakuan adat. Menyoal soal populasi, dua hal penting yang menjadi indikator menurunnya populasi burung Cenderawasih.

 

Pertama adalah perburuan liar dan kedua perambahan. Pemahaman masyarakat untuk memanfaatkan hasil (isi) hutan untuk kepentingan ekonomi keluarga mendorong masyarakat di kawasan tertentu terus melakukan perburuan dan menjual hasil buruan termasuk Cenderawasih. Untuk persoalan ini dirasa perlu  memberikan pemahaman yang arif agar pola pemanfaatan isi hutan tak dilakukan secara membabi buta.

Tak semua hewan harus diburu untuk dimanfaatkan. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan melahirkan Peraturan Kampung (Perkam) yang melarang melakukan perburuan terhadap hewan endemik Papua yang dilindungi termasuk Cenderawasih.

 

Perkam ini sendiri sudah diterapkan oleh beberapa wilayah mulai dari Distrik Nimbokrang, Distrik Depapre maupun Kampung Puay Kabupaten Jayapura termasuk beberapa kampung di Kabupaten Yapen.

Masyarakat lebih memilih untuk menjaga dan membiarkan burung Cenderawasih hidup bebas namun melokalisir kawasan habitat Cenderawasih menjadi kawasan eko tourism yang tetap mendatangkan income bagi masyarakat. Orang luar atau wisatawan yang ingin melihat Burung Cenderawasih harus menyewa tour guide atau leader untuk menikmati atau melihat langsung burung ini.

 

Disini burung Cenderawasih bisa tetap hidup dan masyarakat tetap mendapatkan penghasilan tanpa harus membunuh. Lalu soal kedua adalah perambahan. Lahirnya daerah otonomi baru, kawasan perumahan, kawasan industri atau kawasan perkebunan yang membabat ratusan hektar hutan membuat status Burung Cenderawasih Ikut terancam.

 

Sementara itu, Ketua DPP IJN Papua dan Papua Barat, Robert Isidorus Vanwi Subiat, Seharusnya sebelum dilakukan pembukaan areal, pemerintah atau investor melakukan koordinasi dengan masyarakat adat atau dinas kehutanan atau BBKSDA untuk memetakan wilayah mana yang menjadi habitat burung Cenderawasih sehingga lokasi ini bisa tetap steril dari perambahan. Persoalan kedua selain populasi adalah pengakuan adat.

 

Ini erat kaitannya dengan penggunaan mahkota Cenderawasih yang sejatinya hanya layak dikenakan oleh seorang Ondoafi (untuk daerah pesisir) maupun kepala suku (untuk daerah pegunungan). Selain itu tak seorangpun yang layak mengenakan ini mengingat mahkota Cenderawasih memiliki filosofi hanya dikenakan oleh seorang pemimpin adat yang memiliki rakyat. Selain itu penggunaan mahkota burung Cenderawasih oleh tim tari juga dianggap sebagai  ketidakpantasan karena semakin banyak orang yang menggunakan maka semakin banyak burung Cenderawasih yang mati.

 

Satu cara yang ditawarkan bila melihat kondisi ini adalah bagaimana mendorong satu kreatifitas baru membuat cenderawasih imitasi. Pemerintah perlu menggagas ini dan mengeluarkan regulasi aturan hukum yang mengingat kepada siapapun untuk satu tujuan, bagaimana menghargai ciptaan Tuhan dan membiarkannya tetap hidup sebagai warisan bagi anak cucu dan kebanggaan bagi semua. (Eveerth Joumilena)

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...