Olga Helena Hamadi Sosok Pejuang HAM Meninggal Dunia

Category: Lintas Papua 22 0

Suasana Dukacita Kepergian Almarhuma Olga Hamadi, dirumah duka samping Hy[ermart Tanah Hitam Abepura, Kamis (28/7/2016) (7)
Suasana Dukacita Kepergian Almarhuma Olga Hamadi, dirumah duka samping Hy[ermart Tanah Hitam Abepura, Kamis (28/7/2016) (7)
“Kepergiannya Duka Mendalam Bagi Masyarakat Papua dan  Pejuang HAM Papua”

JAYAPURA (LP)   – Duka mendalam  bagi masyarakat Papua, khususnya para  pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) di Tanah Papua dengan kepergian Olga Helena Hamadi, selaku Ketua Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Papua di Jayapura, tepat pukul 04.00 Subuh WIT, Kamis (28/7).

Meninggalnya Olga Helena Hamadi tentu menimbulkan banyak pertanyaan dikalangan masyarakat dan pejuang HAM, namun dari beberapa Pejuang HAM yang ditemui dirumah duka, tepatnya di samping Toko Hypermart Tanah  Hitam Abepura, kebanyakan menyampaikan ungkapan duka mendalam dan merasa kehilangan sosok pemberani pejuang HAM Papua dan mengetahui jika Almarhuma Olga Helena Hamadi sedang sakit.

 

“Saya jumpa dengan Almarhuma Olga Hamadi pada Desember 2015 di Hola Plaza dan saya bertanya apakah dia (Olga Hamadi –red) sakit kah? Dan Olga mengakui benar dirinya sakit,” ujar Ketua Aliansi Demokrasi Untuk Papua (ALDP),  Latifah Anum Siregar, yang ditemui saat melayat almarhuma Olga Hamadi di rumah duka di samping Hypermart Tanah Hitam Abepura, Kamis (28/7).

Ibu Anum Siregar mengatakan,  kalau Olga Hamadi adalah sosok perempuan Papua yang cukup aktif berjuang untuk masalah Hak Asasi Manusia, sehingga dengan kepergiannya dipanggil Tuhan membuat kita sangat kehilangan.

“Dalam beberapa kasus HAM yang pernah ditangani bersama saat mendampingi Kasus KNPB di Manokwari, dimana  mengawal kasus bulan Mei 2015 dan  sidang bulan Agustus 2015, kita bersama – sama,” tutur Ibu Anum Pejuang HAM Papua ini.

Sementara itu, Mantan Tahanan Politik Pejuang Kemerdekaan Papua, Filep Samuel Jacob Karma mengatakan, sangat sedih dan tidak mampu menahan kesedihan yang mendalam dengan kepergian Almarhuma selalu Tokoh Pejuang Hak Asasi Manusia di Tanah Papua.

“Almarhuma Olga Hamadi adalah seorang Perempuan Papua yang berani berjuang membela kaum yang tertindas dan membela masalah HAM Papua , sehingga kita merasa kehilangan  dan sedih sekali,” ujar Mantan Tahanan Politik Pejuang Kemerdekaan Papua, Filep Samuel Jacob Karma  yang sebelumnya divonis 15 tahun penjara karena pidato politiknya pada 1 Desember 2004. Ia ditahan setelah mengibarkan bendera Bintang Kejora saat demonstrasi hari itu, namun kini telah dibebaskan, bahkan dirinya pernah ditemani Olga Hamadi, saat dibebaskan Kamis, 19 November 2015 kala itu.

Filep Karma pernah ditemani Almarhuma saat dirinya bebar 19 November 2015, bahkan kata Filep Karma, saat dirinya  dibuang ke tahanan Polda Papua, juga didampingi Olga Hamadi.

“Hanya saja terakhir waktu saya dengar ada sakit, tidak bisa mengunjungi, namun demikian saya merasa sedih dan berdoa Tuhan berikan kekuatan dan penghiburan untuk keluarga dan semua masyarakat Papua,” kata Filep Karma, sambil sedikit meneteskan air matanya.

Dirinya menuturkan, mungkin selayaknya diberikan penghargaan dari masyarakat Papua atau semacamnya misalnya Olga Hamadi Award, karena karya – karyanya bagi Papua.

Baca Juga :  17 Mei PSU Tolikara, 470 Anggota Polisi Siap Kawal

“Mungkin inilah jalan Tuhan, kalau Tuhan memanggil Olga Hamadi, pasti akan menyiapkan Olga – Olga berikutnya sebagaimana dari perjuangannya yang telah dilakukaan untuk diteruskan lagi dalam membela HAM Papua,” ucapnya.

Sementara itu, Mantan Ketua Kontras Papua, Harry Maturbongs menuturkan dirnya sangat sedih dan merasa  kehilangan, apalagi pernah sama – sama berkantor di Kontras Papua.

“Olga Hamadi masuk Kontras sejak 2009, namun sebelumnya telah banyak berjuang masalah HAM di Lembaga Bantuan Hukum, bahkan saat bertanya kemampuan Olga untuk memimpin Kontras dijawab dengan kata siap, sehingga 11 tahun setelah saya di Kontras dilanjutkan almarhuma,” kata Pengacara Papua Pembela HAM, Harry Maturbongs, kepada LintasPapua.com, dirumah duka, Kamis (28/7).

Disampaikan, banyak hal yang telah dilakukan Olga Hamadi, termasuk waktu mendampingi para Frater yang aksi demo masalah Paniai dan ditangkap, dimana Olga Hamadi ikut mendampiingi dan menghubungi dirinya.

“Kalau soal ancaman sejauh ini saya pernah juga alami waktu di Kontras, namun apa yag dialami Olga saya hanya mendengar dari orang lain, sedangkan penyampaian langsung tidak pernah, mungkin karena dirinya merasa bisa melaksanakan tugas – tugasnya dengan baik,” akuinya.

Diakui, keinginan Olga Hamadi untuk menjadi pengacara sangat besar sekali, sebab tiga minggu lalu saya berikan kartu advokat dan dirinya senang sekali, akan tetapi sakit yang dialami, saya hanya mengetahui sakit lambung, namun informasi tersebut lebih jelas keluarga yang mengetahui.

“Selama saya menjadi pengacara saya menilai almarhuma cukup gigih ikut memperjuangkan kepentingan masyarakat Papua, bahkan dirinya berbeda dan sangat sensitif dengan kekerasan, sebab Olga tidak suka jika melihat adanya kekerasan,” katanya bercerita.

Suasana Rumah Duka Almarhuma Olga Hamadi
Suasana Rumah Duka Almarhuma Olga Hamadi

Sekilas Almahurma Olga Helena Hamadi adalah  sosok perempuan pemberani asal Kampung Tobati, Perempuan kelahiran Jayapura, 26 Oktober 1982, dengan Dorongan dan dukungan orang tua terus memberikakan motivasi hingga menyelesikan pendidikan, pendidikannya  di sekolah Taman Kanak-kanak (TK)  Kuntum Mekar Argapura, Kota Jayapura.

Setelah TK menamatkan pendidikan 1988 melanjutkan sekolahnya di Sekolah Dasar (SD) Negeri Entrop.  SD Negeri Entrop,1994. Olga melangkah ke  jenjang pendidikan  di SMP YPK Kota Raja Dalam. Karena bercita-cita jadi pengacara dan kuliah di Fakultas Hukum, setamat SMP pada 1997, memilih lanjut ke  SMA Negeri 1 Abepura.

Dalam catatan sekilas saat menggeluti masalah hak asasi manusia, Olga Hamdi selalu berusaha untuk  mencari tahu dan menyelesaikan masalah-masalah terutama yang menimpah  masyarakat kecil.  Olga juga memegang teguh pada ayat-ayat yang dikutip dari Alkitab, kitab suci umat kristen. Maklum mendiang ayahnya Yohanes Hamadi adalah seorang pendeta. Bahkan ayah kandungnya sendiri memberi dukungan dan dorongan baginya untuk belajar hukum demi membela masyarakat yang terpinggirkan.

 

Memasuki  tahun 2000 menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA hingga melapangkan jalannya berkuliah di Fakultas Hukum, Universitas Cendrawasih (Uncen) Jayapura. Tahun 2000 merupakan panasnya suhu politik di Papua terutama jelang penetapan UU Otsus Papua hingga tewasnya Theys Hiyo Elluay.“Saya masuk kuliah tahun  2000, dan selesai tahun 2004,”  kata Almarhuma Olga Hamadi sebelumnya. Selamat Jalan Pejuang Papua. Tuhan Menyambutmu Dalam Damai.

Baca Juga :  Warga Teluk Youtefa Apresiasi GYPA Ajak Peduli Lingkungan

Alamarhuma  mulai bekerja di Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua pada  2005. Sejak di LBH, ia ditempatkan di Divisi Sipil dan Politik.  Sejak di LBH, banyak kisah, suka duka dan senang, dilalui dengan mulus tanpa hambatan sama sekali. Ingatan perempuan ini terhadap sejumlah kasus yang pernah ditangani dan dialami, masih kuat.  Salah satu diantaranya,  kasus 16 Maret 2005, peristiwa demo berbuntuk kekerasan di Gapura Uncen Abepura.

Selanjutnya dari LBH  lanjut tahun 2009 ke Kantor Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Papua.   Memilih bekerja di KontraS, karena termotivasi  ingin menolong orang banyak. Dan tepatnya tahun  2011, dipercayakan menjabat Kordinator KontraS Papua.

Berbekal pengalaman di LBH, sejumlah kasus ‘makar’ bisa ditangani dalam tim pengacara. Diantaranya, kasus makar Nabire, penyerangan Mapolsek Abepura dan kasus Kapeso tahun 2009, kasus aktivis Komite Nasional Papua Barat, kasus Kongres Rakyat Papua  III tahun 2011, dan kasus makar Sarmi pada  2013.

Olga pada tahun 2013 mendapat pengakuan khusus ‘Lawayers for Lawyer Award’ untuk pengacara HAM di Amsterdam, Belanda pada Mei 2013.  Penghargaan adalah pengakuan terhadap dedikasi, kerja-kerja professionalismenya pegacara Hak Asasi Manusia di Papua.  Olga dengan penghaargan ini saat ini  mengku hanya kekuatan injil (Alkitab) yang membuat dia kuat mendampingi para korban pelanggaran HAM di Papua sampai saat ini. Ia juga mendapat dukungan dari keluarga.

Pdt. Dora Balubun, dalam akun facebooknya menulis,   Olga Hamadi kami berduka sangat dalam,engkau perempuan Papua yang hebat pembela rakyat kecil yang papa,engkau tidak pernah memikirkan dirimu dan keselamatanmu hanya orang Papua di hatimu.

“Selamat jalan pembela kemanusiaan, pembela keadilan, kami mencintai dan bangga padamu,Bapa di Surga menerimanya dalam damai,SELAMAT JALAN OLGA HAMADI,” tulisnya dalam suasana dukacita.

Berbagai ucapan dukacita datang dari berbagai kalangan dan tentunya karya perjuangan alamarhuma merupakan sosok perempuan yang banyak membela kepentingan masyarakat Papua.

Dari pantauan dirumah duka di samping Hypermart Tanah Hitam Abepura, semua pejuang HAM dan masyarakat datang melayat dan memberikan ucapan duka dengan krans bunga serta suasana duka mendalam bagi keluarga, Almaruhma  dikembumikan pada Jumat (29/7) pada  Pukul 15.00 WIT di Pekuburan Umum Kristen Tanah Hitam dan banyak handaitaulan dan kerabat kerja pejuang HAM dan masyarakat Papua yang mengantar keperistirahatan terakhir. (***)

Related Articles