Perjuangan Guru Honorer Tangguh di Perbatasan Papua Nugini

Category: Lintas Papua, Pendidikan 2 0

Tubuhnya mungil dan suaranya lantang. Begitulah sosok Fiana Y Manggarprouw, guru honorer berusia 35 tahun di sekolah satu atap SD-SMP Mosso yang terletak di perbatasan Indonesia-Papua Nugini (RI-PNG).

Udara dingin dan hujan menerpa pagi itu di Kampung Mosso, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua. Namun, Fiana tetap keluar-masuk dari kelas satu ke kelas yang lainnya.

Dia harus rela mengajar dari kelas satu hingga kelas enam di sekolah yang terletak di Kampung Mosso. Setiap kepala keluarga di kampung itu mayoritas kawin campur dengan warga negara Papua Nugini.

Kegiatan belajar-mengajar di sekolah itu dimulai pukul 07.00 WIT dan berakhir pukul 12.05 WIT. Seharusnya, pekerjaan ibu guru Fiana hanya mengajar kelas tiga SD.

Namun lantaran seringnya tak ada guru di sekolah itu, Fiana terpaksa mengajar untuk semua kelas. Padahal, jumlah guru yang mengajar di SD Mosso ada lima orang, tapi yang biasa di tempat hanya dua sampai tiga orang.

“Susah dan senang harus dinikmati. Anak-anak di sini, harus diajarkan dengan perlahan agar benar-benar memahami pelajaran. Caranya harus berulang-ulang pemahaman tentang sebuah pelajaran itu,” kata Fiana yang baru tiga tahun mengabdi di sekolah itu.

Baca Juga :  Stand Pameran Papua di Lampung Diserbu Ratusan Pengunjung

Belum lagi jika hujan tiba seperti hari ini, Fiana harus menyempatkan diri singgah ke rumah murid yang satu dan yang lainnya, untuk mengajak murid-murid itu tetap sekolah. “Kalau hujan begini, anak murid biasanya malas. Padahal lokasi sekolah ini berada di sekitar kampung anak-anak itu tinggal,” ucap Fiana, Senin (2/5/2016).

Related Articles